Pengorbanan tiga personel Polres Katingan saat menjalankan operasi pemberantasan narkotika di Desa Tumbang Kalemei menjadi salah satu peristiwa paling memilukan dalam sejarah penegakan hukum di Kalimantan Tengah. Negara memberikan penghormatan tertinggi melalui kenaikan pangkat luar biasa anumerta, sementara Polri berkomitmen menuntaskan penyidikan terhadap seluruh pelaku penyerangan.

PALANGKA RAYA, Mahardeka.com – Operasi pemberantasan peredaran narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, berubah menjadi tragedi yang mengguncang Kalimantan Tengah. Tiga personel terbaik Polri gugur saat menjalankan tugas negara dalam operasi yang berlangsung pada Kamis (2/7/2026) dini hari.

Ketiga anggota tersebut ialah Aiptu (Anumerta) Yudhie Perdana Putra, Ipda (Anumerta) Sumariyanto, dan Briptu (Anumerta) Nopandri Ramadhana. Ketiganya mengorbankan jiwa demi menegakkan hukum dan memberantas jaringan peredaran narkotika yang selama ini meresahkan masyarakat.

Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian, dedikasi, dan pengabdian tanpa batas, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) Anumerta kepada ketiga personel tersebut.

Penghargaan itu disampaikan melalui Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol. Iwan Kurniawan dalam prosesi penghormatan terakhir kepada para almarhum.

Operasi Penindakan Berubah Menjadi Tragedi

Operasi yang digelar Satresnarkoba Polres Katingan bermula dari laporan masyarakat mengenai dugaan aktivitas peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei. Setelah melakukan penyelidikan, tim bergerak menuju lokasi untuk melakukan penindakan terhadap jaringan yang diduga terlibat dalam peredaran narkotika.

Pada tahap awal, petugas berhasil mengamankan seorang terduga pelaku. Namun, situasi berubah drastis ketika sejumlah orang yang diduga merupakan keluarga maupun rekan pelaku melakukan perlawanan terhadap aparat.

Perlawanan tersebut berkembang menjadi bentrokan terbuka. Massa diduga menyerang personel menggunakan senjata tajam jenis parang, sementara situasi di lokasi menjadi tidak terkendali.

Dalam insiden itu, Aipda Yudhie Perdana Putra mengalami luka berat akibat serangan senjata tajam dan gugur saat menjalankan tugas negara. Sementara itu, Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana berupaya menyelamatkan diri melalui Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan, namun keduanya kemudian dilaporkan hilang.

Peristiwa tersebut langsung menjadi perhatian nasional karena memakan korban jiwa dari aparat kepolisian yang tengah menjalankan tugas penegakan hukum.

Pencarian Besar-besaran di Sungai Katingan

Setelah menerima laporan hilangnya dua personel, Polda Kalimantan Tengah segera mengerahkan operasi pencarian besar-besaran. Tim gabungan yang terdiri dari Bareskrim Polri, Basarnas, Brimob, Ditpolairud, Polres Katingan, BPBD, TNI, relawan, serta masyarakat menyisir Sungai Katingan siang dan malam.

Operasi SAR menghadapi tantangan berat. Arus sungai sangat deras, air berwarna keruh, banyak jeram, serta tumpukan batang kayu menyulitkan proses pencarian. Meski demikian, seluruh personel tetap melanjutkan pencarian tanpa mengenal lelah.

Briptu Nopandri Ditemukan di Desa Tumbang Lahang

Pada Sabtu (4/7/2026) sore, warga menemukan sesosok jenazah mengapung di wilayah Desa Tumbang Lahang, sekitar empat desa dari lokasi kejadian atau radius kurang lebih 37 Kilometer ke arah Hilir DAS Katingan. Masyarakat segera melaporkan penemuan tersebut kepada petugas gabungan.

Kapolres Katingan, AKBP Dodik Hartono, membenarkan penemuan tersebut.

“Benar, salah satu personel kami atas nama Nopandri Ramadhana ditemukan. Saat ini anggota kami masih menuju lokasi temuan,” ujar Dodik.

Kapolres juga menjelaskan jarak lokasi penemuan dari tempat kejadian. Tim kemudian melakukan evakuasi dan membawa jenazah menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palangka Raya untuk proses identifikasi. Jenazah tersebut dipastikan merupakan Bripda Nopandri Ramadhana.

“Radius empat desa dari TKP, jenazah akan dibawa ke RS Bhayangkara,” katanya.

Aiptu Sumariyanto Ditemukan di Desa Rantau Asem

Sehari berikutnya, Minggu (5/7/2026) pagi, masyarakat kembali menemukan sesosok jenazah di DAS Katingan, tepatnya diwilayah Desa Rantau Asem, sekitar jarak kurang lebih 8 Kilometer ke arah Hilir DAS Katingan.

Warga kembali melapor kepada petugas gabungan yang sedang melakukan penyisiran.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Palangka Raya, AA. Ketut Alit Supartana selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menjelaskan bahwa penemuan korban terjadi pada hari keempat operasi SAR sekitar pukul 09.00 WIB.

“Tim SAR Gabungan mengevakuasi korban setelah menerima informasi dari masyarakat bahwa melihat jasad yang tersangkut kayu di DAS Katingan Desa Rantau Asem berjarak sekitar 8KM dari lokasi awal. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan langsung dievakuasi ke RS Bhayangkara.” ungkap Alit.

Tim SAR segera menuju lokasi dan mengevakuasi jenazah tersebut ke RS Bhayangkara Palangka Raya. Hasil identifikasi memastikan jenazah itu merupakan Aiptu Sumariyanto. Dengan ditemukannya kedua personel tersebut, operasi pencarian resmi berakhir.

Negara Berikan Penghormatan Tertinggi

Pengorbanan ketiga personel mendapat penghormatan langsung dari institusi Polri. Kapolri memberikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Anumerta sebagai bentuk penghargaan atas keberanian mereka dalam menjalankan tugas. Di antaranya, meliputi:

  • Aipda Yudhie Perdana Putra naik menjadi Aiptu (Anumerta).
  • Aiptu Sumariyanto naik menjadi Ipda (Anumerta).
  • Bripda Nopandri Ramadhana naik menjadi Briptu (Anumerta).

Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol. Iwan Kurniawan, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk penghormatan negara kepada anggota Polri yang gugur saat melaksanakan tugas.

Selain kenaikan pangkat, Polri juga memberikan santunan kepada keluarga dan memastikan hak-hak para almarhum dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.

Kapolda juga menegaskan bahwa Polri membuka kesempatan bagi putra-putri para almarhum untuk mengikuti pendidikan Bintara Polri sebagai bentuk penghargaan atas jasa orang tua mereka.

Gubernur dan Kapolda Datangi Rumah Duka

Suasana duka menyelimuti rumah keluarga para almarhum. Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama Kapolda Kalteng mendatangi rumah duka Aiptu (Anumerta) Yudhie Perdana Putra di Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir pada Jumat (3/7/2026).

Keduanya menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga serta memberikan penghormatan terakhir.

Dalam kesempatan itu, Gubernur menyampaikan bahwa pengabdian para anggota Polri yang gugur menjadi dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat Kalimantan Tengah.

Ia juga berharap aparat segera menuntaskan penyidikan serta menangkap seluruh pelaku yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

Penyidikan Terus Berkembang

Di sisi lain, penyidik terus mengembangkan kasus penyerangan terhadap personel Satresnarkoba Polres Katingan.

Hingga kini, aparat telah menahan tiga terduga pelaku berinisial R (Bukan Ramblan), S alias A, dan N. Ketiganya menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap kronologi penyerangan serta peran masing-masing.

Kapolres Katingan, AKBP Dodik Hartono, membenarkan penangkapan tersebut. Namun demikian, Kapolres belum memerinci peran masing-masing karena penyidik masih mendalami seluruh alat bukti.

“Ada tiga terduga pelaku yang sudah kita amankan. Dan kini masih dalam proses pengembangan dan pendalaman.” Ungkap, AKBP Dodik Hartono.

Selain itu, ia menegaskan aparat gabungan masih memburu sejumlah terduga pelaku lainnya yang diduga ikut melakukan penyerangan.

“Terduga pelaku lainnya masih dalam proses pengejaran oleh tim gabungan. Kami akan terus melakukan pengembangan hingga seluruh pihak yang terlibat berhasil diamankan.” Tegasnya.

Pengabdian yang Tidak Akan Terlupakan

Kepergian Aiptu (Anumerta) Yudhie Perdana Putra, Ipda (Anumerta) Sumariyanto, dan Briptu (Anumerta) Nopandri Ramadhana meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Polri maupun masyarakat.

Ketiganya mengakhiri pengabdian di medan tugas ketika berupaya memutus mata rantai peredaran narkotika yang mengancam masa depan generasi bangsa.

Semangat, keberanian, dan loyalitas mereka menjadi pengingat bahwa tugas kepolisian tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga mempertaruhkan nyawa demi melindungi masyarakat Kalimantan Tengah.

Ikuti berita update lainnya di Mahardeka.com

Saluran WA: Mahardeka.com