PALANGKA RAYA, Mahardeka.com – Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) menyiapkan Produksi Cairan Pemadam X-fire di daerah untuk mempercepat penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di kawasan gambut. Teknologi ini digunakan bersama Tim Asisten Logistik (SLOG) Mabes Polri di Jalan Manduhara Ujung, Kelurahan Kereng Bengkirai, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, pada Rabu (16/9/2026).

Kapolda kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan kehadiran tim slog mabes polri menjadi bentuk dukungan polri dalam menangani karhutla, terutama kebakaran yang terjadi di lahan gambut. Menurutnya, api di permukaan yang sudah padam belum tentu menghilangkan bara di bawah tanah.

“Tim dari slog mabes polri hadir di Kalimantan Tengah, khususnya di Palangka Raya. Bersama-sama dengan Polda Kalteng, kami melakukan upaya pembasahan lahan gambut. Walaupun api di permukaan sudah padam, bara di bagian bawah masih berpotensi menghasilkan asap yang menutupi kota palangka raya,” ungkapnya.

Iwan menjelaskan x-fire diarahkan untuk menangani titik api dan bara yang berada di bawah permukaan tanah. Cairan tersebut diaplikasikan pada titik yang masih mengeluarkan asap dengan tujuan membantu proses pembasahan dan pendinginan gambut.

Polda kalteng juga menyiapkan lokasi produksi x-fire di Kalimantan Tengah. Langkah tersebut diharapkan mengurangi ketergantungan pengiriman dari Jakarta serta mempercepat respons ketika terjadi karhutla.

“Beliau (aslog kapolri) juga akan memproduksi cairan ini di kalimantan tengah. Tempatnya sudah kita siapkan dan jajaran mabes akan memberikan pelatihan bagi anggota polda kalteng agar ke depan kita bisa memproduksi sendiri. Dengan demikian, penanganan karhutla jauh lebih efektif dan efisien,” terangnya.

X-fire Menjangkau Bara Di Dalam Gambut

Perwakilan Tim Ahli Slog Mabes Polri, Saputra, menjelaskan x-fire memiliki dua bahan utama. Pertama, Surfaktan yang menurutnya membantu membawa air masuk melalui pori-pori tanah gambut sehingga proses pendinginan dapat berlangsung di dalam tanah.

Bahan kedua berupa Tapioka yang telah dipolimerisasi. Menurut saputra, bahan tersebut berfungsi membantu menstabilkan suhu tanah sekaligus menghasilkan buih yang menutup permukaan gambut sehingga pasokan oksigen dari udara dapat berkurang.

“Cairan ini terdiri dari dua bahan utama. Pertama adalah jenis surfaktan yang berfungsi membawa air meresap masuk menembus pori-pori tanah gambut hingga terjadi pendinginan di dalam tanah. Kedua, kami menggunakan tapioka yang telah dipolimerisasi. Bahan ini berfungsi menstabilkan suhu tanah pada kondisi rendah serta menghasilkan buih yang menutup permukaan gambut, sehingga pasokan oksigen dari udara tidak masuk ke dalam tanah,” jelasnya.

Dalam penerapannya, petugas menggunakan alat semprot punggung atau backpack sprayer. Metode tersebut memungkinkan petugas membawa cairan langsung menuju titik asap dan melakukan penanganan secara lebih terarah.

“Kami tidak fokus pada teknologi mahal seperti pesawat air, melainkan pada efektivitas penggunaan air dan teknologi. Petugas dapat membawa 15 liter cairan langsung ke titik asap/ membongkar sedikit permukaan tanah dan langsung memadamkannya secara tuntas,” terangnya.

Produksi Lokal Ditargetkan Percepat Respons

Saputra menyebut x-fire sebelumnya telah diuji atau digunakan dalam penanganan karhutla di sejumlah wilayah, antara lain Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.

Untuk x-fire 1 yang digunakan pada kebakaran permukaan, cairan konsentrat dicampurkan dengan air dalam perbandingan tertentu. Menurut saputra, penggunaannya dapat menjangkau area hingga sekitar 1.000 meter persegi. Ia juga menyebut teknologi tersebut pernah digunakan pada lahan gambut dengan kedalaman tertentu di riau dan sumatera selatan.

Sementara itu, x-fire 2 digunakan untuk penanganan bara dan titik asap yang tersisa di dalam gambut dengan konsentrasi yang lebih tinggi.

Proses penyisiran menjadi bagian penting setelah pemadaman. Tim melakukan pemantauan secara intensif untuk memastikan titik yang telah ditangani tidak kembali mengeluarkan asap atau terbakar.

“Proses penyisiran dan pemadaman ini biasanya berlangsung intensif selama 24 jam untuk memastikan lokasi yang telah dipadamkan tidak kembali menyala esok harinya,” tutupnya.

Rencana produksi x-fire di kalimantan tengah menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla, khususnya di wilayah gambut. Dengan ketersediaan bahan dan personel terlatih di daerah, polda kalteng berharap penanganan titik api dan bara dapat dilakukan lebih cepat ketika kebakaran kembali terjadi.

Ikuti berita update lainnya di Mahardeka.com

Saluran WA: Mahardeka.com