Peneliti dari Amerika Serikat mengembangkan platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mempercepat proses pencarian terapi kanker. Teknologi tersebut menggabungkan bioprinting tiga dimensi, pencitraan canggih, dan AI untuk menganalisis respons sel kanker terhadap ratusan kandidat obat secara bersamaan. Temuan ini membuka peluang baru bagi pengobatan kanker yang lebih cepat dan lebih personal.

Perkembangan kecerdasan buatan terus mengubah berbagai sektor, termasuk dunia kesehatan. Jika sebelumnya proses penemuan obat membutuhkan waktu bertahun-tahun, kini AI mulai membantu para ilmuwan mempercepat identifikasi kandidat terapi yang berpotensi efektif.

Tim peneliti dari Virginia Commonwealth University (VCU), UCLA Health Jonsson Comprehensive Cancer Center, dan University of Colorado School of Medicine mengembangkan sebuah platform baru yang memanfaatkan AI untuk memantau respons sel kanker terhadap berbagai jenis obat secara real time. Teknologi tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Protocols.

AI Percepat Seleksi Kandidat Obat Kanker

Platform ini menggunakan organoid, yaitu replika mini tumor yang dibuat dari sel kanker pasien. Organoid tersebut kemudian diproduksi melalui teknologi bioprinting 3D dan dipantau menggunakan sistem pencitraan berkecepatan tinggi tanpa pewarna kimia yang dapat mengubah perilaku sel. Selanjutnya, AI menganalisis jutaan data yang dihasilkan untuk mengidentifikasi pola respons terhadap berbagai kandidat obat.

Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengevaluasi ratusan terapi sekaligus. Selain mempercepat proses penelitian, teknologi ini juga membantu menemukan terapi yang lebih sesuai dengan karakteristik tumor setiap pasien sehingga mendukung pengobatan yang lebih personal.

Jason Reed, Ph.D., salah satu penulis penelitian dari VCU, mengatakan teknologi ini dapat membantu komunitas pengembang obat mengadopsi metode yang lebih efisien sehingga pada akhirnya meningkatkan hasil pengobatan bagi pasien kanker.

AI Belum Menggantikan Uji Klinis

Meski menunjukkan hasil yang menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa AI bukan pengganti seluruh tahapan pengembangan obat. Teknologi ini berfungsi mempercepat proses identifikasi kandidat terapi, tetapi setiap calon obat tetap harus melewati uji praklinis, uji klinis, hingga evaluasi regulator sebelum dapat digunakan secara luas.

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan farmasi dan pengembang AI juga semakin aktif menjalin kolaborasi untuk mempercepat penemuan obat. Tren tersebut menunjukkan bahwa AI kini menjadi salah satu teknologi strategis dalam riset biomedis global. Namun, para ahli mengingatkan bahwa proses menghadirkan obat baru ke pasar tetap memerlukan waktu panjang karena harus memenuhi standar keamanan dan efektivitas yang ketat.

Bagi dunia kesehatan, kehadiran AI menjadi harapan baru untuk meningkatkan efisiensi penelitian sekaligus mempercepat hadirnya terapi yang lebih tepat sasaran. Apabila terus dikembangkan, teknologi ini berpotensi mempercepat penanganan berbagai jenis kanker dan penyakit kompleks lainnya di masa depan.

Ikuti berita update lainnya di Mahardeka.com

Saluran WA: Mahardeka.com