PALANGKA RAYA, Mahardeka.com — Sebanyak 49 warga dari berbagai kabupaten di Kalimantan Tengah menjalani operasi katarak gratis di RSUD dr. Doris Sylvanus, Palangka Raya, Rabu (3/6/2026). Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) menggelar layanan ini melalui Dinas Kesehatan Provinsi sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah, dengan tujuan menjangkau masyarakat kurang mampu yang selama ini kesulitan mengakses layanan kesehatan mata.

Program berlangsung tiga hari, mulai 2 hingga 4 Juni 2026. Peserta berasal dari sejumlah daerah, antara lain Sukamara, Kapuas, dan Lamandau. Dari 86 pendaftar awal, rumah sakit menetapkan target 70 pasien. Namun setelah proses skrining medis, hanya 49 orang yang memenuhi syarat untuk menjalani tindakan operasi. Sebagian peserta lainnya gugur karena kondisi penyerta seperti diabetes, hipertensi, hingga infeksi mata yang belum tuntas.

Sekretariat Daerah Kalimantan Tengah (Sekda Kalteng), dr. Linae Victoria Aden, M.M.Kes., menyebut program ini mencerminkan komitmen gubernur terhadap sektor kesehatan.

“Kesehatan masyarakat sangat menunjang proses pembangunan daerah. Bapak Gubernur menjadikan kesehatan sebagai salah satu program prioritas pembangunan,” tegasnya.

Selain operasi, seluruh pasien juga menerima layanan pemeriksaan pascaoperasi secara gratis.

Katarak Masih Jadi Penyebab Kebutaan Tertinggi di Kalimantan Tengah

Sebanyak 49 pasien dari berbagai kabupaten di Kalimantan Tengah menjalani operasi katarak gratis sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalteng. Source Foto: (Harry. B/Mahardeka.com)

Plh. Direktur RSUD dr. Doris Sylvanus, dr. Mikko Uriampas Ludjen, Sp.OG, M.Kes., menegaskan bahwa operasi katarak gratis merupakan agenda rutin tahunan rumah sakit, bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Tiap hari kita melakukan operasi katarak di RSUD Doris Sylvanus. Ini kegiatan rutin tahunan, dan kebetulan kita rangkaikan dengan HUT Kalteng,” ujarnya.

Ia menjelaskan, katarak masih menduduki posisi teratas sebagai penyebab kebutaan di Kalimantan Tengah. Angka penderitanya diperkirakan mencapai 1–2 persen dari penduduk berusia 50 tahun ke atas.

Peserta yang belum lolos skrining pun tetap mendapat peluang serupa setelah kondisi medisnya membaik.

“Setelah hipertensinya diobati, kencing manisnya diobati, radangnya sembuh, baru bisa dilakukan operasi kembali,” jelas dr. Mikko.

Faktor pemicu katarak meliputi penuaan, paparan sinar matahari langsung, serta cedera mata akibat aktivitas bertani atau berkebun. Dokter mengimbau masyarakat memakai kacamata pelindung dan topi saat bekerja di luar ruangan, serta mencukupi asupan gizi harian sebagai upaya pencegahan dini.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah berharap program serupa terus menjangkau seluruh kabupaten dan kota, sehingga warga prasejahtera di pelosok daerah tidak lagi kehilangan penglihatan hanya karena keterbatasan akses layanan medis.

(Harry. B)

Ikuti berita update lainnya di Mahrdeka.com

Saluran WA: Mahardeka.com