PALANGKA RAYA, Mahardeka.com – Dunia konservasi global berduka setelah Prof. Dr. Birute Mary Galdikas meninggal dunia pada Selasa, (24/3/2026) di Los Angeles, Amerika Serikat. Ia wafat pada usia 79 tahun setelah melawan kanker paru-paru. Kepergiannya menandai berakhirnya era tokoh penting dalam perlindungan orangutan, sekaligus menjawab siapa, apa, kapan, di mana, dan bagaimana sosok legendaris ini berpulang.

Melalui pernyataan resmi Orangutan Foundation International (OFI), Dr. Galdikas disebut sebagai ikon konservasi yang meninggalkan warisan besar. Ia menjadi anggota terakhir dari kelompok ilmuwan perempuan “Trimates” atau “Leakey’s Angels”, bersama Jane Goodall dan Dian Fossey. Ketiganya merupakan murid Louis Leakey yang merevolusi pemahaman manusia tentang primata.

“Dr, Galdikas akan dikenang karena tekad dan semangatnya yang luar biasa dalam melindungi satu-satunya kera besar di Asia, orang utan. Dr. Galdikas sering menekankan bahwa orang utan bukanlah nenek moyang kita sepenuhnya, tetapi hampir,” bunyi pernyataan OFI.

Karier panjangnya dimulai pada 1971 di Camp Leakey, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Di lokasi tersebut, ia melakukan studi longitudinal tentang perilaku dan ekologi orangutan. Penelitian ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah untuk satu spesies.

Kiprah Dr Birute Galdikas dalam konservasi orangutan Kalimantan dan warisan global perlindungan hutan tropis

Selama empat tahun awal, Dr. Galdikas menembus hutan rawa sejak dini hari hingga malam. Ia mengamati langsung kehidupan orangutan liar. Ia juga mencatat pola makan, siklus reproduksi, serta perilaku sosial. Temuan ini menjadi dasar ilmu pengetahuan global tentang orangutan.

Selain riset, ia membangun program rehabilitasi orangutan pertama berskala besar di Indonesia. Ia merawat individu yatim piatu yang mengalami trauma akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Upaya ini memberi peluang bagi mereka kembali ke alam liar.

Ia juga memperkuat hubungan dengan pemerintah Indonesia. Ia membantu mengembalikan status kawasan Tanjung Puting sebagai taman nasional. Selain itu, ia memimpin Konferensi Kera Besar Dunia pertama pada 1991. Langkah ini membawa isu orangutan ke panggung internasional.

Dalam praktik lapangan, Dr. Galdikas menunjukkan kedekatan unik dengan orangutan. Ia bahkan mampu berinteraksi dalam jarak dekat tanpa mengganggu perilaku alami satwa tersebut. Pendekatan ini membuka wawasan baru tentang kecerdasan dan emosi primata.

Ia juga menekankan pentingnya pariwisata berkelanjutan. Menurutnya, pengelolaan wisata yang teratur mampu mendukung konservasi sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

“Selama teratur, tidak ada dampak jelek pada orang utan. Kita pakai contoh Rwanda dan Uganda yang mendirikan pariwisata untuk gorila gunung. Mereka mulai berkembang biak setelah pariwisata berlangsung teratur,” katanya.

Sepanjang hidupnya, Dr. Galdikas mengajar di Simon Fraser University dan membimbing ratusan peneliti. Ia juga menerima berbagai penghargaan internasional dan nasional, termasuk Kalpataru dari Indonesia.

Warisan ilmiah dan dedikasinya menjadikan orangutan sebagai simbol penting konservasi dunia. Kepergiannya meninggalkan jejak mendalam bagi perlindungan hutan tropis dan keanekaragaman hayati.

Ikuti berita update lainnya di Mahardeka.com

Saluran WA: Mahardeka.com