PALANGKA RAYA, Mahardeka.com – Fenomena konten pria bergaya feminin di media sosial TikTok memicu keresahan warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sejumlah video yang menampilkan laki-laki dengan gestur, gaya bicara, serta busana menyerupai perempuan ramai beredar sejak awal 2026. Warga kemudian ramai membahas fenomena ini di berbagai forum digital maupun percakapan sehari-hari karena mereka khawatir terhadap dampaknya bagi anak dan remaja.

Warganet sering menyebut tren tersebut dengan istilah “boti”. Kreator konten menampilkan ekspresi feminin secara terbuka dalam video hiburan pendek. Algoritma media sosial juga mendorong penyebaran video tersebut sehingga banyak pengguna muda menontonnya berulang kali.

Sebagian pengguna media sosial menganggap konten tersebut sebagai bentuk ekspresi diri. Namun banyak warga menilai tren itu berpotensi memengaruhi persepsi generasi muda terhadap identitas diri. Kekhawatiran tersebut muncul karena anak dan remaja mengakses media sosial tanpa pengawasan ketat.

Situasi itu akhirnya memicu diskursus publik di Kota Palangka Raya. Banyak orang tua mulai mempertanyakan dampak psikologis paparan konten tersebut terhadap generasi Z dan generasi Alpha.

Satgas PPA Kalteng Ingatkan Pengawasan Orang Tua

Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Tengah menanggapi fenomena ini dengan serius. Anggota Satgas PPA, Widiya Kumala Wati atau Kak Yaya, menilai tren tersebut harus menjadi perhatian keluarga.

Menurutnya, orang tua memegang peran utama dalam membentuk karakter anak di era digital.

“Eksistensi fenomena ini secara visual dapat mengonstruksi persepsi anak-anak kita. Pengawasan orang tua tidak bisa lagi dilakukan dengan cara konvensional, melainkan harus lebih intensif dan adaptif terhadap arus media sosial,” tegas Widiya pada Sabtu, (7/3/2026).

Ia juga meminta orang tua tidak merespons perilaku anak dengan kemarahan. Pendekatan yang tepat justru membantu anak memahami nilai dan norma sosial.

“Orang tua harus hadir sebagai figur yang tegas sekaligus pendidik yang tenang. Jangan gunakan amarah. Sebaliknya, arahkan energi anak pada kanal-kanal positif seperti olahraga, seni, atau pengembangan kreativitas yang mampu memperkuat karakter jati diri mereka,” jelasnya.

Selain itu, Widiya menekankan pentingnya literasi sejak dini mengenai batasan tubuh serta norma perilaku dalam masyarakat. Ia menilai pendidikan keluarga dapat mencegah kebingungan identitas pada anak.

“Kesadaran orang tua adalah kunci. Jika melihat indikasi perilaku yang mulai menyimpang dari norma, segera berikan edukasi mengenai batasan tubuh dan bagaimana cara berperilaku yang pantas sesuai kodratnya,” pungkasnya.

Satgas PPA berharap masyarakat tidak hanya memperdebatkan fenomena ini di media sosial. Mereka juga mendorong keluarga memperkuat komunikasi agar anak tetap memiliki karakter yang kuat di tengah arus informasi digital.

Ikuti berita update lainnya di Mahardeka.com

Saluran WA: Mahardeka.com