PALANGKA RAYA, Mahardeka.com — PMKRI Cabang Palangkaraya Sanctus Dionisius bersama BEM FISIP, BEM FKIP, dan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Santo Thomas Aquinas UPR menggelar Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter “Menolak Punah” di Palangka Raya, Minggu (24/05/2026). Keempat organisasi mahasiswa itu berkolaborasi merespons persoalan krisis lingkungan akibat meningkatnya limbah plastik dan tekstil di tengah masyarakat modern. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi kritis sekaligus refleksi terhadap pola hidup konsumtif yang terus tumbuh tanpa memperhatikan dampak lingkungan.
Film “Menolak Punah” dipilih karena relevan dengan kondisi nyata saat ini. Panitia menilai permasalahan sampah plastik dan limbah tekstil semakin mengancam keberlanjutan ekosistem. Ancaman itu menyentuh langsung kehidupan manusia di masa depan.
Melalui diskusi, pemantik menyampaikan bahwa pakaian modern berbahan sintetis berpotensi menghasilkan mikroplastik. Partikel itu mencemari sungai dan laut, lalu kembali masuk ke tubuh manusia lewat rantai makanan. Penumpukan limbah tekstil yang sulit terurai menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
Mahasiswa Didorong Jadi Agen Perubahan Lingkungan lewat Edukasi, Daur Ulang, dan Gaya Hidup Bijak
Keempat organisasi itu mendorong lahirnya solusi konkret di lingkungan kampus. Mereka mengajak mahasiswa membangun budaya memilah sampah dan mengurangi produk sekali pakai. Konsumsi pakaian secara bijak juga menjadi bagian dari gerakan yang mereka gagas.
Peserta juga belajar dari praktik pengelolaan sampah di Jepang, Swedia, dan Korea Selatan. Ketiga negara itu berhasil membangun sistem berbasis disiplin, daur ulang, dan energi. Model tersebut menjadi inspirasi konkret bagi gerakan mahasiswa di Kalimantan Tengah.
Minat mahasiswa terhadap isu lingkungan, menurut pemantik diskusi, terus meningkat seiring dampak krisis iklim yang makin nyata. Perubahan iklim, pencemaran, dan bencana ekologis mendorong generasi muda lebih kritis dan peduli. Film ini hadir sebagai media visual yang efektif untuk membangun kesadaran tersebut.
“Merawat bumi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama sebagai generasi yang ingin menolak kepunahan.” Ungkap Keluarga Mahasiswa Katolik Santo Thomas Aquinas UPR.
Kolaborasi ini menegaskan bahwa mahasiswa tidak cukup menjadi penonton krisis lingkungan. Mereka perlu bergerak aktif sebagai agen perubahan nyata. Solidaritas lintas organisasi kampus menjadi modal penting dalam mendorong gaya hidup berkelanjutan di Palangka Raya.
Ikuti berita update lainnya di Mahardeka.com
Saluran WA: Mahardeka.com

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan