PALANGKA RAYA, Mahardeka.com – Penggunaan QRIS di Kalimantan Tengah terus meningkat pesat pada 2026. Bank Indonesia mencatat masyarakat kini menjadikan QRIS sebagai metode pembayaran utama, khususnya untuk transaksi ritel bernilai kecil. Di tengah tren ini, BI mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap potensi penipuan digital melalui kampanye “Kalau Ragu, Stop Dulu”.

Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansyah Andrias, menyebut pertumbuhan QRIS di daerah ini sudah sangat masif, meski masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Ia menegaskan bahwa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kalangan muda mendominasi penggunaan layanan tersebut.

“Transaksi yang paling banyak itu ritel, nilainya di bawah Rp100 ribu,” ujarnya di depan wartawan, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, masyarakat memilih QRIS karena menawarkan kemudahan, kecepatan, dan efisiensi dalam transaksi harian. Selain itu, pelaku UMKM juga memanfaatkan sistem ini untuk memperluas akses pembayaran non-tunai.

QRIS Kalteng Tumbuh Pesat, BI Tekankan Keamanan Transaksi Digital dan Edukasi Anti Penipuan

Di sisi lain, BI menilai literasi keamanan digital masyarakat masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, BI terus menggencarkan edukasi agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam berbagai modus penipuan berbasis teknologi, seperti manipulasi tampilan pembayaran atau bukti transfer palsu.

Melalui kampanye “Kalau Ragu, Stop Dulu”, BI mengajak masyarakat lebih berhati-hati sebelum melakukan transaksi. Yuliansyah menegaskan bahwa setiap pengguna harus memastikan keaslian link maupun sistem pembayaran.

“Kalau merasa tidak yakin, sebaiknya tunda transaksi dan cari informasi terlebih dahulu,” tegasnya.

Selain itu, BI juga mengedukasi langkah praktis dalam menggunakan QRIS secara aman. Pertama, pengguna harus mengecek nama penerima setelah memindai kode QR. Kedua, pengguna perlu memastikan nominal transaksi sudah sesuai. Ketiga, pengguna wajib memasukkan PIN sebagai bentuk persetujuan akhir.

Jika terjadi kendala, masyarakat dapat melapor ke penyedia jasa pembayaran, baik bank maupun dompet digital. Selanjutnya, BI bersama Otoritas Jasa Keuangan akan membantu proses mediasi apabila masalah belum terselesaikan.

Untuk menekan risiko penipuan, BI juga mulai melengkapi pelaku usaha dengan fitur notifikasi suara. Sistem ini memberi tanda langsung saat transaksi berhasil sehingga pedagang dapat memverifikasi pembayaran secara real time.

“Kalau ada transaksi masuk nanti ada bunyi notifikasi. Ini sedang kita lakukan bertahap,” jelasnya.

Dengan berbagai langkah tersebut, BI berharap masyarakat semakin bijak dalam menggunakan QRIS. Selain itu, pemahaman yang baik akan membantu menjaga keamanan transaksi digital sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis non-tunai di Kalimantan Tengah.

(Harry. B)

Ikuti berita update lainnya di Mahardeka.com

Saluran WA: Mahardeka.com