Palangka Raya, Mahardeka.com – Kalimantan Tengah kembali menjadi sorotan setelah pemerintah pusat memproyeksikan wilayah tersebut sebagai sentra hilirisasi mineral. Pemerintah pusat meminta pemerintah daerah mempercepat persiapan agar industri pengolahan dapat berjalan sesuai target nasional pada 2026.
Sorotan Pusat terhadap Industri Hilirisasi Kalteng
Kementerian terkait menempatkan Kalimantan Tengah sebagai wilayah potensial untuk pengembangan industri pengolahan mineral, terutama bauksit, silika, dan silikon. Selama ini komoditas tersebut masih dikirim dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah belum dirasakan masyarakat lokal. Pemerintah menilai hilirisasi akan membuka lapangan kerja baru, memperkuat ekonomi daerah, dan menekan ekspor bahan mentah.
Wakil Gubernur sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, menegaskan bahwa manfaat hilirisasi hanya tercapai jika daerah menyiapkan infrastruktur dan SDM secara matang. Ia menekankan pentingnya transparansi dan perencanaan terbuka agar proses pembangunan berjalan efektif.
Arahan Pemerintah Pusat dan Tahapan Rencana Kerja
“Gubernur nanti diundang Menteri untuk membicarakan lebih detail,” ujarnya, Sabtu (6/12/2025).
Edy juga menilai hilirisasi tidak hanya menciptakan lapangan kerja sektor tambang, tetapi membuka peluang bagi koperasi dan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak terpusat di luar daerah.
Risiko Implementasi dan Antisipasi Daerah
Meski prospeknya besar, Edy mengingatkan risiko seperti potensi konflik lahan, kebutuhan investasi besar, hingga penyerapan tenaga kerja lokal yang belum optimal.Jika daerah tidak mengantisipasi hambatan sejak awal, hambatan itu dapat menahan laju program hilirisasi.
Ia menegaskan bahwa Kalimantan Tengah harus bergerak cepat agar tidak hanya menjadi penonton saat industri strategis berkembang. Menurutnya, hilirisasi adalah momentum untuk meningkatkan ekonomi daerah dan membuka kesempatan lebih luas bagi putra daerah.
(Harry. B)
Follow: Mahardeka.com

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan